Harga minyak melonjak tajam pada hari Senin menyusul meningkatnya aksi militer yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran, dengan beberapa proyeksi menunjukkan potensi kenaikan di atas $100 per barel. Situasinya tidak stabil, dan para ahli menekankan bahwa tindakan Gedung Putih dalam beberapa hari mendatang—bersama dengan respons balasan Iran dan perilaku negara-negara penghasil minyak lainnya—akan menentukan seberapa tinggi harga minyak pada akhirnya akan naik.
Harga minyak mentah Brent naik hampir 13% semalam, mencapai hampir $80 per barel. Meskipun pasar telah memperhitungkan beberapa risiko akibat agresi AS terhadap Iran, sifat kacau dari serangan awal tersebut—termasuk kematian pemimpin tertinggi Iran—telah menimbulkan ketidakpastian yang signifikan. Menurut Tyson Slocum dari Public Citizen, strategi AS tampaknya adalah menghilangkan tokoh-tokoh penting dan kemudian mengandalkan hasil yang tidak dapat diprediksi.
Pengendalian Strategis Iran atas Jalur Minyak
Iran menguasai Selat Hormuz, jalur pelayaran global penting yang dilalui sekitar 20% minyak dunia. Anggota utama OPEC hampir sepenuhnya bergantung pada selat ini untuk ekspor. Peneliti pasar minyak Rory Johnston mencatat bahwa penutupan Selat Hormuz adalah skenario yang sudah lama dikhawatirkan. Berbeda dengan respons OPEC terhadap krisis (peningkatan produksi), di sini gangguan terjadi di jantung rantai pasokan.
Lalu lintas melalui selat tersebut telah menurun secara drastis, dengan tarif asuransi yang melonjak dan kapal-kapal menjadi sasaran serangan pesawat tak berawak. Situasi yang terjadi saat ini tampaknya merupakan “penutupan sukarela” dan bukan penutupan resmi, namun dampaknya tetap sama.
Meningkatnya Serangan dan Gangguan
Situasi memburuk pada hari Senin dengan adanya laporan serangan pesawat tak berawak yang menargetkan kilang Saudi dan fasilitas LNG Qatar, menyebabkan penghentian produksi dan menaikkan harga gas Eropa. Serangan yang terus berlanjut seperti ini dapat berdampak buruk pada harga minyak, dan berpotensi mendorongnya ke level tiga digit. Clayton Seigle dari Pusat Studi Strategis dan Internasional memperingatkan bahwa Iran mungkin memanfaatkan energi sebagai senjata jika negaranya semakin putus asa.
Dampak terhadap Pasar Global dan Produsen AS
Gangguan ini kemungkinan besar tidak hanya berdampak pada minyak tetapi juga produk-produk yang bergantung pada bahan bakar fosil, seperti plastik dan pupuk. Meskipun produsen minyak AS sedang berjuang menghadapi harga yang rendah dan kebijakan yang tidak dapat diprediksi, lonjakan harga yang tiba-tiba dapat menguntungkan mereka. Namun, mereka perlu menilai perkiraan harga jangka panjang sebelum menstabilkan produksi.
Implikasi Politik dan Kerugian Konsumen
Waktu terjadinya serangan-serangan ini sangat sensitif, mengingat tahun pemilu paruh waktu dan biaya energi yang sudah tinggi. Partai Demokrat sudah menyusun strategi bagaimana mengatasi potensi kenaikan harga, mengingat harga bensin berpotensi naik minggu ini.
Peran Trump dalam De-Eskalasi atau Perpanjangan
Para analis sepakat bahwa tanggapan Gedung Putih—dan pada akhirnya, pengambilan keputusan Presiden Trump—akan menentukan arah konflik dan harga minyak. Pertanyaan kuncinya adalah apakah Iran akan mencari penyelesaian yang cepat, apakah negara-negara Teluk akan ikut melakukan serangan, dan apakah Trump akan memberikan sinyal penghentian perang yang cepat atau perang yang berkepanjangan.
Situasinya tidak dapat diprediksi, dan semakin lama konflik berlanjut, semakin besar kemungkinan harga minyak akan tetap tinggi. Serangan awal AS, ditambah dengan potensi pembalasan Iran, mungkin mempunyai dampak jangka panjang terhadap pasar energi global.























