Meskipun banyak yang telah menulis tentang generasi muda yang menerima setiap gelombang teknologi baru, kenyataan yang dihadapi Gen Z kini menjadi semakin rumit. Sebuah studi baru-baru ini menunjukkan bahwa ketertarikan awal terhadap kecerdasan buatan generatif digantikan oleh rasa tidak nyaman dan skeptis yang semakin besar.

Pergeseran dari Harapan ke Keragu-raguan

Menurut data baru yang dirilis oleh Gallup, Walton Family Foundation, dan GSV Ventures, lebih dari separuh Gen Z (usia 14–29 tahun) di Amerika Serikat adalah pengguna tetap AI generatif. Namun, penggunaan tidak sama dengan optimisme.

Survei tersebut, yang dilakukan pada awal tahun 2024 terhadap lebih dari 1.500 responden, menyoroti penurunan tajam dalam sentimen:
Harapan Menurun: Hanya 18% generasi muda yang merasa memiliki harapan terhadap AI, penurunan yang signifikan dari 27% yang dilaporkan setahun lalu.
Meningkatnya Kemarahan: Hampir sepertiga responden menyatakan perasaan marah terhadap teknologi.
Meningkatnya Skeptisisme: Para peneliti mencatat adanya pergeseran cepat dari pandangan yang relatif positif pada tahun lalu ke sikap yang jauh lebih negatif saat ini.

Mengapa Timbul Reaksi? Efisiensi vs. Keterampilan Manusia

Ketegangan dalam generasi Z tampaknya berasal dari konflik antara kegunaan praktis dan nilai intelektual jangka panjang. Meskipun banyak pengguna mengakui bahwa AI dapat bertindak sebagai alat yang ampuh untuk efisiensi baik dalam lingkungan akademis maupun profesional, mereka semakin khawatir tentang “biaya tersembunyi” dari otomatisasi.

Kekhawatiran utama yang diidentifikasi dalam penelitian ini meliputi:
Erosi Kreativitas: Ketakutan bahwa ketergantungan berlebihan pada AI akan menghambat pemikiran orisinal.
Berkurangnya Pemikiran Kritis: Kekhawatiran bahwa mendelegasikan tugas ke mesin akan melemahkan keterampilan kognitif yang diperlukan untuk pemecahan masalah.

Masa Depan Dunia Kerja yang genting

Skeptisisme paling menonjol di antara mereka yang sudah memasuki atau mengarungi dunia profesional. Bagi pekerja muda, AI bukan sekadar alat bantu belajar; ini adalah perubahan mendasar dalam cara kerja dilakukan.

Kesenjangan mengenai peran AI di tempat kerja telah melebar secara signifikan selama setahun terakhir:
Risiko vs. Imbalan: Hampir 50% responden percaya bahwa risiko AI di tempat kerja lebih besar daripada manfaatnya—meningkat 11 poin dari tahun sebelumnya.
Manfaat Bersih: Hanya 15% dari mereka yang disurvei memandang teknologi sebagai hal yang positif bagi kehidupan profesional mereka.

Tren ini patut diperhatikan karena Gen Z saat ini memasuki pasar kerja yang sedang diubah secara real-time oleh teknologi yang semakin mereka waspadai.

“Gen Z menjadi semakin skeptis, semakin negatif – bahkan pada tahun lalu, mereka tidak terlalu positif terhadap hal tersebut,” ujar Zach Hrynowski, peneliti pendidikan senior di Gallup.

Kesimpulan

Data menunjukkan bahwa bagi Gen Z, kebaruan AI mulai memudar, digantikan oleh realisasi potensi kerugian yang pragmatis dan sering kali menimbulkan kekhawatiran. Ketika generasi ini memasuki dunia kerja, perjuangan mereka untuk menyeimbangkan efisiensi teknologi dengan pelestarian kecerdasan manusia kemungkinan besar akan menentukan pengalaman profesional mereka.